Manusiaku II
kerling suara malam tadi membisingkam hatiku
ketika kerlip bintang menyapa
mengadu kata menjadi nyata
menghitung gedung gedung
di antara cahaya terang
berbisik
berhembus nafas Surga
mendatangkan boneka peraga
debu debu membutakan batinku
lewat Manusiaku
dinding bata membisu
mengarahkan semua pandangan
diujung relung terdalam
tertancap panah sukma
membasahi bola bola penglihatan
menodai sudut sudut tak terlihat
kini kunci iitu terbuka
lewat gembok altar
Pelupuk Mata
Febuari, 2012
Rabu, 29 Februari 2012
Selasa, 28 Februari 2012
Manusiaku I
Sajak sajak tertoreh
dalam goresan tinta
di atas lembaran lembaran kitab
cerita buta
tapi kini mulai kering sudah
yang ada patahan patahan luka
dendangan lama tetap
berdengung
lalu kenapa
masih saja ruang kosong terisi
guratan suaramu
gambaran lagumu
pekikan senyumu
pancaran terang cahaya matamu
kini lelah sudah
tiada hembusan nafas untuk dirimu
tabung oksigen tak lagi buatmu
entah sampai kapan
Manusiaku ini sajak pertama
Untukmu
dalam goresan tinta
di atas lembaran lembaran kitab
cerita buta
tapi kini mulai kering sudah
yang ada patahan patahan luka
dendangan lama tetap
berdengung
lalu kenapa
masih saja ruang kosong terisi
guratan suaramu
gambaran lagumu
pekikan senyumu
pancaran terang cahaya matamu
kini lelah sudah
tiada hembusan nafas untuk dirimu
tabung oksigen tak lagi buatmu
entah sampai kapan
Manusiaku ini sajak pertama
Untukmu
Selasa, 21 Februari 2012
Teraling Sukma
Di balik pintu batu menganga
memuntahkan semua kuasa
asa mendulang masa berhenti
tanpa menoleh kemana sisi mata
menata tanpa ada pelita
lalu dengan apa suara bercerita
menyaksikan saja bibir ini
enggan menyapa
memutarkan nada menjadi
irama tak bernyawa
dalam petak ruang bersendawa
memaksa urat urat
mematangkan semua rangkaian
biji raya menerpa kerangka jiwa
mengubah anyir kata dalam
Permata
Febuari, 2012
memuntahkan semua kuasa
asa mendulang masa berhenti
tanpa menoleh kemana sisi mata
menata tanpa ada pelita
lalu dengan apa suara bercerita
menyaksikan saja bibir ini
enggan menyapa
memutarkan nada menjadi
irama tak bernyawa
dalam petak ruang bersendawa
memaksa urat urat
mematangkan semua rangkaian
biji raya menerpa kerangka jiwa
mengubah anyir kata dalam
PermataFebuari, 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
Mahbub
Mahbub
Sesuci
air mengalir disekujur tubuh
Mengalun
mengikuti lafadMu
Merdu
membuana
Tertunduk
kosong berbalut helaian sutra
Jiwa
ini terperangah
Jazad
terpaku
Arwah
menuju panggilan mu
Bukan
sekedar mascot
Lebih
hamba yang hina dina
Kalau
bisa ikuti kemana aku pergi
Terlalu
lancang kotoran busuk
Menempel
erat pada lembaran kain
Siapa
yang mau
Uraian
syair, mantra memujaMu
Tersentuh
Selalu
payungi aku
Rajutan
cinta yang menjadi idaman
Berikan
padaku
Sesuci
putih salju
Itu
tak berarti
Sebening
embun pagi
Tak
pantas bagiMu
Karena
maha besar
Besar
dari apaun
keagunganMu,
pencipta universum
Jumat, 17 Februari 2012
Sajak Untuk Suara Mata Angin
Gangster
Aku bukan kamu
Kami bukan dirimu
Semua karenamu
Ludahmu terasa manis
Terjilatlah olehmu,
itu yang terasa
Ludah kami terlalu pahit
Untukmu
hanya kalian
Kecil,
miskin,
hina itukah?
Sebutir nasi berarti,
Bekaspun kami tak ragu
Berartikah untukmu ?
Hak kamipun harus kau ambil,
Tragis...
Sadis...
Rela apa tidak,
kamipun tak tahu
Satu tuntutan kami
Lidahku tak semanis lidahmu
Langganan:
Komentar (Atom)


